Kisah ini diceritakan Oleh Teruyuki Okazaki, pendiri ISKF (International Shotokan Karate Federation). Cerita diambil dari sebagian wawancara antara Okazaki dengan Catherine Pinch yang dimuat dalam ISKF Alaska Newsletter September
2007
Sebelum JKA mempunyai dojo sendiri, sejak aku lulus dari universitas tidak ada tempat bagi kami untuk berlatih karate. Satu-satunya tempat hanyalah dojo-dojo di universitas. Disamping itu aku sibuk bekerja, tujuh hari seminggu di sebuah rumah makan yang ramai. Sebelumnya aku ingin membuka usaha sendiri sebab kupikir dengan itu akan cukup waktu untuk berlatih karate. Ternyata hal itu tidak mungkin karena aku harus bekerja sepanjang waktu hingga aku tidak punya waktu untuk orang lain. Untunglah tidak lama kemudian aku bekerja pada seorang teman yang sangat baik. Dia mengijinkanku beristirahat kapanpun saat aku ingin berlatih karate.
Suatu hari Sensei Nakayama mengajakku menemaninya berkunjung ke Thailand untuk memperkenalkan seni karate. Sebelumnya sebuah undangan untuk mengajar telah sampai, karena itu kami berencana pergi selama dua bulan untuk mengajar, bersantai sambil mempelajari tentang negara itu .
Di Thailand kami melihat banyak hal, dan kami sangat menikmatinya. Salah satu pertunjukan jalanan yang terkenal di Thailand adalah pertarungan antara ular kobra melawan musang. Tontonan itu tersedia setiap hari, dan bagi penduduk lokal sangatlah menarik. Tentu saja Sensei Nakayama takut dengan ular, awalnya dia tidak berani melihat tontonan itu dari dekat. Namun kukatakan padanya,”Sensei, kita disini hanya sebentar. Kita harus mengambil beberapa gambar dari tontonan ini karena kita tidak akan melihat Thailand lagi”.
Begitulah, akhirnya dia merogoh kameranya dan mendekati pertunjukan yang sedang berlangsung. Dia berdiri sejauh-jauhnya dari ular itu sambil sedikit membungkuk untuk mengambil gambar. Sementara itu, disisinya ada sebuah keranjang yang berisi ular. Tanpa diketahui oleh Sensei Nakayama seekor ular muncul dan merayap mendekatinya. Dirinya saat itu benar-benar fokus mengambil gambar hingga tidak menyadari ular lain tengah mendekatinya. Aku berkata,”Sensei, hati-hati dengan ular itu, dia sedang menuju kearahmu. Dengan terlihat sedikit kesal dia hanya melambaikan tangannya padaku agar sabar menunggu. Aku berkata lagi,”tidak Sensei, ada ular sedang mendekatimu”. Tiba-tiba dia melihat kebawah dan terlihat olehnya seekor ular kobra besar nyaris saja mematuknya. Sensei Nakayama langsung melompat ke belakang dengan ketakutan, dan kemudian melarikan diri. Selanjutnya seharian itu aku tidak melihatnya dimanapun.
Saat itu Thai boxing sangat populer di Thailand, dan surat kabar lokal telah mendengar kedatangan kami. Di pemberitaan dimuat bagaimana jadinya jika seorang juara Thai boxing akan melawan praktisi karate dalam sebuah pertandingan. Orang Thailand sangat bangga mempunyai olah raga ini. Beberapa surat kabar ada yang menceritakan tentang kami, bahkan membandingkan karate dengan Thai boxing. Sejak itu hampir setiap hari aku pergi menyaksikan beberapa pertandingan Thai boxing untuk melihat seperti apa bentuknya. Aku sangat percaya diri mampu mengalahkan mereka (saat itu aku juga masih muda). Aku berkata pada Sensei Nakayama,” Sensei aku bisa saja mengalahkan mereka, aku tahu aku mampu”. Saat itu tradisi di Thailand si penantang harus melawan asisten senior lebih dulu. Jika si penantang berhasil mengalahkan si asisten, maka dia baru berhak menantang seniornya. Karena itu aku ingin sekali menantang petarung Thai boxing.
Namun demikian si juara Thai boxing ternyata juga hadir menyaksikan demonstrasi karate kami. Sensei Nakayama kemudian menampilkan teknik dasar karate seperti pukulan, tendangan, tangkisan, pergerakan badan dan berbagai variasi teknik lainnya. Sang juara Thai Boxing akhirnya menyadari bahwa karate mempunyai lebih banyak teknik daripada Thai Boxing. Dia berpendapat pertandingan apapun antara kedua bela diri ini akan menjadi tidak adil. Keduanya terlalu berbeda. Karena itulah kami tidak pernah mengadakan sebuah pertandingan.
Masyarakat lokal tampaknya tidak begitu gembira dengan keputusan kami, dan kami mendapat pemberitaan buruk dari media karenanya. Suatu hari ketika kami sedang berjalan bersama, tiba-tiba seorang anak menghampiri kami. Selanjutnya dengan terang-terangan dia menantang kami untuk berkelahi dengannya. Sensei Nakayama hanya menjawab,”tidak”, dan kami mencoba meneruskan perjalanan. Saat mencoba menghindar, tiba-tiba anak itu melayangkan tendangan ke kepala Sensei Nakayama. Kemudian anak itu telah terbujur pingsan di tanah. Sensei Nakayama telah melakukan sesuatu yang sangat cepat, dan hingga kini aku masih belum tahu apa yang terjadi. Kemudian Sensei Nakayama mengatakan, “lari !”, dan kami segera menyingkir dari tempat itu.
Sensei Nakayama merasa sangat malu dengan perbuatannya telah menyerang anak yang menantangnya tempo hari, karena Master Funakoshi telah melarangnya terlibat dalam perkelahian. Tubuhnya hanya bereaksi ketika tendangan itu mengarah padanya. Dia berpesan padaku agar tidak mengatakan pada siapapun tentang kejadian hari itu, karena Master Funakoshi akan sangat marah padanya. Tentu saja sekarang beliau telah meninggal, sehingga tidak apa-apa jika aku menceritakan kisah ini pada kalian. Apalagi hal itu telah menunjukkan kebesaran dan kerendahan hatinya.
Kejadian lain adalah saat aku dan Sensei Yaguchi membantu Sensei Nakayama di akademi militer Jepang. Setiap tahun ada akademi militer dan Sensei Nakayama diminta mengajar bela diri sebagai bagian program pelatihan. Tentu saja di Jepang ada budaya memberi hadiah pada instruktur, karena itulah beberapa murid bertanya padaku dan Sensei Yaguchi hadiah apa yang disukai Sensei Nakayama. Sensei Yaguchi menjawab (bergurau),”Oh, dia suka dengan ular”. Murid-murid melihat padaku dan akupun mengangguk.,”Ya benar, dia sangat menyukai ular”. Kemudian aku dan Sensei Yaguchi tertawa dengan hal itu. Kami kira murid-murid juga menyadari bahwa kami hanya bercanda dan kamipun melupakannya.
Tidak lama sesudah itu beberapa murid membawa sebuah hadiah yang dibungkus dengan cantik kepada Sensei Nakayama. Saat itu aku dan Sensei Yaguchi juga sedang di kantor bersama Sensei Nakayama. Murid-murid meletakkan hadiah itu diatas meja sambil mengucapkan terima kasih pada Sensei Nakayama atas segala latihan yang telah diberikan. Sensei Yaguchi dan aku samar-samar mendengar suara berdesis berasal dari dalam kotak, dan dengan sangat terkejut kami saling melihat satu sama lain. Kami tidak dapat berkata apapun selain menyadari murid-murid telah menganggap serius perkataan kami tempo hari. Ternyata mereka telah mendaki ke gunung dan menghabiskan banyak waktu berburu sepasang ular yang bagus sebagai hadiah.
Tentu saja, setelah Sensei Nakayama membuka hadiah itu dia segera melemparkannya dan melarikan diri dari ruangan. Sepanjang hari itu kami tidak melihatnya. Karena bingung apa yang harus dilakukan, kami menuju ke rumahnya dan berbicara dengan istrinya. Kami menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan ketidaktahuan kami bahwa murid-murid ternyata percaya tentang ular itu. Dia hanya tertawa dan berkata tidak perlu khawatir, dia akan berusaha menjelaskan pada suaminya apa yang sebenarnya terjadi. Namun demikian, hal itu tampaknya tidak begitu berhasil. Dia terlanjur sangat marah dan enggan berbicara dengan kami dalam waktu yang lama.
Selengkapnya...
Sabtu, 19 Desember 2009
Kisah Nakayama & Ular Berbisa
Nakayama - Antara Legenda & Kontroversi

Post under Biografi Diposting oleh Admin Fokushotokan
Posturnya terlihat tegap dan kuat. Sorot matanya tajam, kadangkala terkesan dingin bagi beberapa orang. Sebagian mengaguminya sebagai figur yang berwibawa dengan keahlian karate yang tidak diragukan lagi. Sebagian membencinya karena tindakannya yang dianggap melanggar larangan sang guru. Kontroversial, adalah kata yang sering melekat padanya. Namun tidak diragukan lagi, dia juga salah satu loyalis dari Bapak Karate Moderen. Jika Funakoshi menyebarkan karate di Jepang, maka dirinya telah menyebarkan karate ke penjuru dunia.
Masatoshi Nakayama adalah salah satu tokoh awal karate Shotokan. Namanya terkenal karena merubah fungsi karate sebagai kompetisi olah raga, sebuah cita-cita yang tidak pernah diinginkan oleh Funakoshi yang menggunakan karate sebagai “do”. Dilahirkan di Prefektur Yamaguchi tanggal 13 April 1913, Nakayama masih mempunyai hubungan dengan klan Sanada yang legendaris. Keluarga Nakayama secara turun-temurun menguasai bela diri tradisional Jepang. Naotoshi (ayahnya) belajar judo sedangkan Naomichi (kakeknya) terkenal sebagai instruktur kendo ternama. Antusias pada bela diri agaknya mengalir dalam darah Nakayama yang juga berlatih kendo dan judo sejak anak-anak.
Saat usianya beranjak remaja, Nakayama pindah ke Taiwan untuk meneruskan sekolahnya. Sebagai anak muda yang bersemangat, Nakayama terlibat dalam banyak kegiatan klub seperti atletik, renang, tennis dan ski. Meski sangat sibuk Nakayama tidak melupakan latihan kendonya. Sang kakek sangat gembira melihat cucunya menggeluti bela diri yang sama dengannya. Dirinya berharap agar kelak Nakayama akan mengikuti jejaknya sebagai instruktur kendo. Namun ternyata hal lain justru ada dalam benak Nakayama. Belajar di Taiwan agaknya menimbulkan rasa penasaran sekaligus keinginan untuk pergi Cina. Namun saat itu tidak mudah mencapainya karena dibutuhkan biaya yang tinggi. Nakayama kemudian memilih Universitas Takushoku untuk mewujudkan impiannya. Saat itu lulusan Takushoku memang banyak dikirim ke negara Asia untuk bekerja atau sebagai wakil Jepang.
Tahun 1932 diam-diam Nakayama mengikui tes masuk di Universitas Takushoku dan berhasil lulus. Nakayama sangat beruntung karena Takushoku terkenal sebagai universitas dengan koleksi bela diri tradisional Jepang yang lengkap. Dengan demikian dirinya tidak perlu susah-susah melanjutkan latihan kendonya. Saat jadwal latihan untuk seluruh kegiatan klub akhirnya diterbitkan, Nakayama ternyata keliru membaca jadwal latihan kendo yang terbalik dengan karate. Begitu datang ke dojo, Nakayama baru menyadari bahwa dirinya hadir di hari yang salah. Meski kecewa, Nakayama tidak langsung pulang, melainkan ingin melihat latihan karate dari dekat.
“…Di surat k
abar aku telah membaca tentang karate, namun aku tidak begitu banyak mengetahuinya, karena itu kuputuskan untuk duduk dan melihatnya sebentar. Tidak lama, seorang laki-laki tua datang ke dojo dan mulai memberi aba-aba pada para murid. Dia benar-benar sangat ramah dan tersenyum pada siapapun, tapi tidak diragukan lagi bahwa dia adalah instruktur kepala. Hari itu, aku melihat Master Funakoshi dan karate untuk pertama kalinya. Aku menyukainya dan karena itu aku ingin mencoba karate pada latihan berikutnya, karena dengan pengalamanku di kendo seharusnya karate akan lebih mudah. Pada latihan berikutnya, dua hal yang terjadi telah mengubah hidupku; Pertama, aku benar-benar telah lupa dengan kendo, dan kedua, aku menemukan bahwa seluruh teknik karate ternyata tidak mudah dikerjakan. Sejak hari itu hingga sekarang, aku tidak pernah kehilangan semangat untuk berusaha menguasai teknik karate-do.”
Begitulah, Nakayama kemudian mulai menjalani latihan karate di Takushoku yang terkenal paling berat dan melelahkan. Saat itu hanya ada dua macam latihan karate, yaitu memukul makiwara sekitar 1000 kali dan mengerjakan satu macam kata 50-60 kali. Latihan yang membosankan namun menuntut fisik dan semangat yang prima itu berlangsung selama 5 jam. Akibatnya tidak banyak murid yang mampu bertahan, hingga dalam waktu 6 bulan hanya tersisa sedikit saja. Nakayama terus bertahan dan mengerjakan seluruhnya tanpa mengeluh.
Setahun setelah Nakayama bergabung dengan klub karate, latihan kumite mulai diperkenalkan. Tahun 1933 berturut-turut gohon kumite (5 teknik), sanbon kumite (3 teknik) dan ippon kumite (1 teknik) mulai diajarkan. Nakayama yang sebelumnya telah belajar kendo tidak begitu kesulitan dengan latihan model baru ini. Tahun 1934 kumite setengah bebas (jiyu ippon kumite) diajarkan dan ternyata mendapat respon yang positif dari kalangan mahasiswa. Model kumite ini adalah inovasi dari Yoshitaka Funakoshi yang terinspirasi dari latihan kendo. Sayangnya Nakayama saat itu telah pergi ke Cina hingga tidak begitu lama merasakan jiyu ippon kumite. Saat itu latihan kumite dianggap sebagai pengusir kebosanan dengan latihan Funakoshi yang hanya fokus pada kihon dan kata saja.
Tahun 1937 menjadi tahun yang melelahkan namun menggembirakan bagi Nakayama. Saat itu Nakayama berhasil lulus dari Takushoku namun harus pergi ke Cina sebagai wakil pertukaran pelajar dengan Universitas Peking. Nakayama dipilih karena termasuk pemuda yang pandai, apalagi sebelumnya telah belajar bahasa Cina di sela kesibukan karatenya. Saat akan kembali ke Jepang, Nakayama ternyata harus menundanya karena bekerja untuk pemerintah Cina selama beberapa waktu. Tahun 1946 Nakayama baru kembali ke Jepang, setahun setelah negara itu mendapat mimpi buruk akibat kalah perang. Saat itulah Nakayama mendapati kenyataan pahit dengan banyak rekannya di dojo telah tewas. Meski sulit, Nakayama berusaha mengumpulkan mereka yang pernah aktif berlatih karate dan mencoba mengorganisir latihan seperti sebelum perang. Tahun 1947 Nakayama menjadi instruktur kepala di Takushoku menggantikan Funakoshi. Upaya Nakayama berhasil mengembalikan reputasi Takushoku sebagai yang paling aktif dalam karate sesama dojo universitas.
Angin perubahan dunia karate Jepang terjadi tahun 1949 saat dibentuk Japan Karate Association (JKA). Organisasi ini muncul setelah beberapa murid senior Funakoshi menginginkan satu wadah yang resmi karate. Lebih jauh untuk menyatukan seluruh praktisi karate Jepang yang tercerai berai pasca perang. Meskipun dalam JKA Funakoshi bertindak sebagai guru besar kehormatan, namun usia yang telah lebih dari 80 tahun membuatnya tidak mungkin bertindak sebagai instruktur. Karena itulah Nakayama dipilih sebagai instruktur kepala mewakili Funakoshi. Tidak lama sesudahnya, tahun 1952 bagian pendidikan jasmani di Takushoku meminta bantuannya sebagai staf pengajar. Posisi itu adalah awal karirnya, karena di masa mendatang Nakayama menjadi kepala di divisi tersebut.
Setelah Funakoshi meninggal dunia, Nakayama berperan besar dalam proses awal JKA hingga menjadi besar seperti sekarang. Selain sebagai instruktur kepala, Nakayama melakukan banyak riset dalam karate. Agaknya posisi yang dekat dengan dunia akademis membuat Nakayama tidak kesulitan dengan hal itu. Hasilnya adalah apa yang terlihat dalam JKA moderen saat ini tampil sebagai organisasi karate yang terbesar di dunia. Ada tiga hal utama yang dianggap sebagai inovasi terbaik dari Nakayama, yaitu: menyebarkan karate ke penjuru dunia, program pelatihan calon instruktur JKA dan kompetisi karate. Meski banyak mendapat repon positif, seluruhnya program itu masih menyisakan pro dan kontra bahkan hingga kini.
Untuk mendukung promosi Shotokan JKA, Nakayama menerbitkan banyak buku karate. Diantaranya adalah “Dynamic Karate” (1965, 2 volume), Best Karate (1977, 11 volume), “Katas of Karate” (5 volume) dan “Superior Karate” (11 volume). (bersambung)
Selengkapnya...
Selasa, 15 Desember 2009
Luca Valdesi - Antara Tupai & Juara
Sebuah tendangan meluncur deras dari kakinya menuju sasaran kepala yang segera disusul sebuah pukulan lurus dengan sebuah teriakan keras. Penonton yang sebelumnya terdiam karena menyaksikan penampilannya segera riuh bertepuk tangan. Tidak lama kemudian laki-laki ini segera menutup gerakannya dan memberikan hormat. Bendera dari wasit dan juri diangkat sebagai tanda kemenangan berpihak padanya. Luca Valdesi dari Italia yang baru saja menampilkan kata Gankaku ternyata kembali meraih gelar juara dunianya.Bagi mereka yang berlaga di nomor kata sudah tidak asing lagi dengan nama Luca Valdesi. Dirinya diakui sebagai salah satu figur yang mampu menunjukkan karakter kata Shotokan dengan maksimal. Peringkat 1 dunia ternyata sudah berhasil diraihnya pertama kali pada tahun 2000. Namun setelah itu peringkatnya sempat melorot ke posisi 2 dan 3 dunia meski akhirnya kembali ke posisi teratas. Walaupun sempat naik turun, Valdesi berhasil memantapkan posisinya di peringkat 1 dunia sejak tahun 2006 hingga sekarang. Tidak heran jika banyak lawannya dari negara lain menganggap Valdesi sebagai kompetitor terberat baik pada nomor perorangan maupun beregu.
Luca Valdesi lahir tanggal 18 Juni 1976 di Palermo, Sicilia. Awal keterlibatannya dalam karate dimulai saat usianya baru 6 tahun. Ayah dan pamannya ternyata juga memegang sabuk hitam karate, sehingga bagi Valdesi bergabung dengan tim karate tak ubahnya semacam tradisi keluarga. Di awal perkenalannya dengan karate, Andrea (ayah Valdesi) selalu membawanya di beberapa klub lokal di kota itu.
Tahun 1995 Valdesi bergabung dengan Fiamme Gialle, sebuah tim karate bergengsi yang bernaung dibawah otoritas Kepolisian Italia. Disini Valdesi dibimbing oleh Claudio Culasso yang menjabat sebagai kepala instruktur. Tidak lama kemudian sebuah turnamen lokal berskala nasional digelar di Italia. Di turnamen itu Valdesi berhasil meraih gelar pertamanya di usianya yang masih 18 tahun. Sejak itu dirinya terus mengasah kemampuannya hingga turnamen internasional tiba. Meski awalnya tidak cukup yakin mampu berlaga di nomor bergengsi kata perorangan, Valdesi ternyata berhasil menempati posisi puncak dalam European Championships yang digelar tahun 2000 itu. Dan sejak itu gelar juara dari berbagai turnamen selalu berhasil diraihnya.
Disela kesibukannya dalam karate, Valdesi tetap tidak melupakan kehidupan pribadinya. Tahun 2001 dirinya menikahi Ada Spinella, seorang penari sekaligus selebriti ternama. 3 tahun kemudian anak pertamanya, Andrea, lahir. Beberapa bulan kemudian dirinya lulus dari Universitas dengan meraih gelar sarjana dari jurusan ekonomi bisnis.
Saat ini banyak organisasi karate yang sengaja mengubah kata baik pada gerakan maupun iramanya agar terlihat lebih indah dan cepat. Valdesi menyatakan akan tetap berusaha mempertahankan prinsip dasar gerakan setiap kata. Namun demikian dirinya tidak menampik dengan kenyataan bahwa seiring berjalannya waktu, karate saat ini telah banyak berubah.
“Di semua cabang olah raga baik metode dan penampilan telah berubah. 20 tahun lalu, rekor lari berbeda, hal itu sama dengan karate. Waktu telah merubahnya.”
Meskipun banyak orang yang memuji kecepatan tangan dan kaki Valdesi, namun tidak sedikit pula yang mengkritiknya. Bahkan di salah satu situs video sharing ada juga yang menyebut Valdesi sebagai si “tupai” karena saking cepatnya. Sebuah komentar negatif namun cukup menggelikan memang. Ada juga komentar miring lainnya yang menilai gaya Valdesi dianggap terlalu menonjolkan sisi sport karate daripada esensi teknik. Dengan kata lain, Valdesi hanya dianggap terlalu mementingkan keindahan gerak tak ubahnya penari dibanding menunjukkan makna bela diri. Namun karena itulah yang dituntut dari sport karate, gaya Valdesi agaknya tidak perlu diperdebatkan.

“Kata favoritku adalah Unsu dan Gankaku. Yang pertama adalah sebuah kata yang sangat cepat dan spektakuler. Aku dapat menunjukkan karakterku didalamnya; yang kedua merupakan kata paling sulit di Shotokan karena membutuhkan keseimbangan dan konsentrasi yang besar….tubuh dan pikiran..”
Barangkali dari sebagian banyak rival Valdesi hanya Antonio Diaz yang terbilang cukup tangguh untuk berlaga dengannya. Antonio Jose Diaz Fernandez adalah karateka Venezuela terbaik yang meraih medali perunggu dalam turnamen di tahun 2002, 2004 dan 2006 di nomor kata perorangan. Diaz yang terkenal dengan kata Chatanyara Kushanku sebagai andalannya ini juga menjadi juara pertama di turnamen Pan America di tahun 2005, 2006 dan 2007. Terakhir Diaz berhasil meraih medali emasnya di Curacao (2009). Meski pertemuan Valdesi dan Diaz cukup sering (11 kali total), penampilan mereka tidak pernah membosankan. Penonton agaknya selalu penasaran siapa pemenang antara Valdesi (Unsu – Gankaku) dengan Diaz (Superimpai – Chatanyara Kushanku)
Di usianya sekarang (2009) yang sudah terbilang tua sebagai atlit, Valdesi masih saja aktif berlaga di nomor spesialisasinya yaitu kata perorangan. Di tengah persaingan yang semakin ketat dengan munculnya atlit baru yang lebih muda dan enerjik, nama Valdesi ternyata masih sulit digeser dari peringkat 1 dunia saat ini. Bicara masalah keinginannya selepas pensiun dari kompetisi karate, Valdesi begitu antusias ingin keliling dunia sambil memberikan berbagai seminar dan pelatihan.
“Aku ingin berkeliling dunia memberikan pelajaran dan seminar dan aku menyukainya. Aku juga ingin berbagi apa yang telah kupelajari untuk membantu membimbing calon kompetitor baru dalam turnamen.” ungkapnya.
Misteri Tora no Maki
Selain berlatih karate pada Azato dan Itosu, Funakoshi juga belajar seni sastra pada gurunya ini. Tampaknya hal ini berpengaruh besar pada munculnya simbol harimau yang kemudian lazim dikenal dengan Tora no Maki yang digunakan oleh Shotokan dan Shotokai saat ini.Ketika Funakoshi masih muda, dia gemar berjalan-jalan dalam kesunyian diantara pohon-pohon cemara yang mengelilingi rumahnya di Shuri, Okinawa. Setelah sehari yang berat diisi dengan mengajar di beberapa sekolah di daerahnya ditambah beberapa jam lebih diisi dengan latihan karate yang giat, dia kerap kali akan mendaki Gunung Torao dan kemudian bermeditasi diantara pepohonan cemara dibawah bintang-bintang dan bulan yang terang. Gunung Torao amatlah dekat, gunung ini ditumbuhi pepohonan hingga begitu lebatnya yang apabila diamati dari kejauhan menyerupai ekor seekor harimau. Dalam kenyataannya nama Torao memang berarti ekor harimau.
Pada waktu-waktu berikutnya, Funakoshi menerangkan bahwa angin dingin yang berdesir diantara pepohonan cemara di Gunung Torao membuat pohon-pohon tersebut bergerak seperti layaknya gelombang yang memecah di pantai. Demikianlah, sejak didapatkannya inspirasi itu dia memilih nama Shoto yang selalu dibubuhkannya sebagai tanda tangan di akhir karya tulisnya.
“Shoto” sebagai nama yang ditulis oleh Funakoshi memiliki arti pohon cemara yang bergerak laksana gelombang. Sedangkan “kan” berarti ruang atau balai utama (yang kemungkinan besar tempat murid-muridnya berlatih. Nama ini kemudian dianugerahkan oleh murid-muridnya sebagai penghormatan pada Funakoshi dengan ditulis pada papan nama dojo yang dibangun di Tokyo tahun 1936.
Munculnya simbol harimau yang dikerjakan oleh Hoan Kosugi ini tidak begitu jelas. Sumber pertama menyebutkan ketika Funakoshi berniat kembali ke Okinawa dirinya didatangi oleh Hoan Kosugi. Seorang pelukis ternama saat itu yang meminta pelajaran karate bagi dirinya dan teman-temannya di Kelompok Tabata. Perkumpulan ini adalah wadah berkumpulnya para seniman yang terbaik di masa itu. Kosugi meminta pelajaran dari Funakoshi karena saat itu dia tidak menemukan guru karate yang lebih pantas dari Funakoshi.
Ketika itu Funakoshi berniat menulis buku Ryukyu Kempo Karate, Kosugi mengatakan pada Funakoshi kalau dirinya bersedia melukis sampul depannya. Kosugi kemudian melukis gambar harimau yang disebutnya Tora no Maki. Di Jepang istilah Tora no Maki merupakan istilah resmi bagi karya tulis untuk suatu seni atau suatu sistem. Kosugi menjelaskan pada Funakoshi bahwa buku yang akan ditulisnya akan menjadi “Tora no Maki” nya karate. Dan sejak kata “tora” berarti harimau, Kosugi melukis gambar harimau sebagai simbolnya.
Sumber lain mengatakan kalau Kosugi sangat terkesan dengan latihan karate yang diterimanya dari Funakoshi. Kemudian ketika didengarnya Funakoshi akan menulis buku dengan segera dia mengusulkan diri untuk melukis sampulnya. Dikatakan bahwa Kosugi mengambil ide harimau karena menurut kepada filosofi tradisional Cina yang mempunyai makna bahwa ’’harimau tidak pernah tidur’’. Harimau mempunyai sifat yang tenang namun tetap waspada. Perasaan ini dirasakan oleh Kosugi ketika berlatih dibawah Funakoshi. Tampaknya makna ini dikemudian menjadi sangat populer.
Funakoshi sangat terkesan ketika diterimanya hasil karya Kosugi ini. Mengingatkannya akan kenangan masa mudanya ketika masih mendaki gunung Torao. Funakoshi berniat membayar hasil karya ini, namun Kosugi menolaknya. Kosugi hanya meminta Funakoshi mengajarinya karate berikut filosofi besar yang terkandung didalamnya. Terharu mendengar jawaban ini, Funakoshi menerima tawaran itu dan merekapun terus menjalin persahabatan baik.
Ada juga sumber yang mengatakan bahwa Funakoshi sendiri yang meminta pada Kosugi untuk melukis simbol harimau itu baginya. Setelah diketahuinya Kosugi adalah seorang pelukis yang pandai.
Tidak dapat dipastikan mana yang pasti dari kisah-kisah itu. Barangkali diantara kisah-kisah itu ada yang benar. Namun yang pasti Funakoshi kemudian menggunakan lukisan harimau itu sebagai sampul depan bukunya Ryukyu Kempo Karate yang terbit tahun 1922.
Setelah meninggalnya Funakoshi seluruh aset, dokumen berikut lukisan harimau diserahkan kepada Shigeru Egami oleh keluarga Funakoshi. Egami sendiri di kemudian hari tetap pada Shotokai sebagai organisasinya.
Antara Kobudo & Karate
Sekitar abad ke-12 penguasa lokal yang disebut Aji menjalankan kekuasaannya dari benteng yang berdiri di atas tanah kekuasaan mereka (gusuku). Di kemudian hari pemerintahannya ternyata mengalami perpecahan hingga Ryukyu terbagi menjadi tiga kerajaan yang independen. Ketiganya ingin menunjukkan dominasinya dengan saling menyerang dan berusaha menaklukkan satu sama lain. Saat itu mereka menggunakan senjata dan bela diri meski dengan gaya teknik yang tidak sekompleks sekarang. Dalam persenjataan mereka telah menggunakan senjata tradisional seperti bo (tongkat) dan alat pertanian dari logam yang telah dimodifikasi.
Tahun 1429 Ryukyu memasuki pemerintahan Raja Sho Hashi dan mengalami perubahan besar. Raja Sho merasa bahwa perang lagi tidak berguna dan hanya berakibat perpecahan. Selanjutnya muncul inisiatif darinya untuk menyatukan ketiga kerajaan itu dalam satu pemerintahan yang independen (unifikasi). Tentu saja upaya itu tidak mudah karena Raja Sho harus memerangi kedua penguasa lainnya yang jelas-jelas menolak. Setelah berhasil mengalahkan kedua pesaingnya, Raja Sho akhirnya berhasil menyatukan seluruh wilayah Ryukyu. Setelah kekuasaan Raja Sho Hashi berakhir, cita-cita itu diteruskan oleh keturunannya yaitu Sho Shin. Sebagai dukungan unifikasi dibuatlah kebijakan anti perang berupa undang-undang. Pada pokoknya kebijakan itu melarang penduduk untuk menyimpan dan menggunakan senjata untuk perang. Sebagai realisasinya seluruh senjata kemudian disita dari penduduk setempat dan dikumpulkan di satu gudang yang konon bersebelahan dengan istana Shuri.
Berakhirnya perang dan adanya undang-undang membuat Ryukyu memasuki masa damai. Banyak penduduk yang kemudian beralih pekerjaan menjadi pedagang karena Dinasti Sho membuka pintu lebar-lebar untuk pendatang dari luar. Hasilnya terjadilah pertukaran kebudayaan yang dipercaya mempengaruhi cikal bakal kemunculan karate dan kobudo dengan teknik yang lebih sistematis. Karena menggunakan kapal sebagai media transportasi, penduduk Ryukyu harus mempersenjatai diri dari serangan perompak Jepang. Meski dilarang Dinasti Sho, banyak yang percaya bahwa kobudo sebenarnya masih dilatih meski tidak dalam dojo resmi. Pendapat itu berasal dari teknik dan senjata tradisional Cina yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat setempat.
Sejarah mencatat perubahan besar dalam kobudo dan karate terjadi setelah Ryukyu dijajah oleh kelompok Satsuma tahun 1609. Akibat tidak mempunyai senjata yang memadai lagi, penduduk Ryukyu hanya mengandalkan peralatan seadanya yaitu alat pertanian dan tempurung kura-kura sebagai perisai. Tentu saja benda-benda itu tidak cukup melawan pasukan samurai berkuda yang dipersenjatai pedang. Akhirnya Ryukyu berhasil dikuasai samurai penjajah itu dan aturan larangan menggunakan senjata kembali dilanjutkan. Penduduk setempat kemudian mulai mengembangkan bela diri tangan kosong yang berguna sebagai upaya pertahanan diri. Sejak saat itulah awal karate sebagai bela diri alternatif mulai dikembangkan. Meski demikian seluruh latihan bela diri baik tangan kosong atau senjata sebenarnya masih dilatih meski rahasia. Selama 300 tahun penduduk Ryukyu masih mewariskan ke generasi berikutnya meski tanpa ada dokumen atau keterangan yang menjelaskannya.
Karate dan kobudo akhirnya berhasil muncul ke permukaan setelah Jepang memasuki Restorasi Meiji. Kedua bela diri itu akhirnya dimasukkan dalam salah satu pelajaran di sekolah. Pemerintah Ryukyu menganggapnya sebagai aset penting yang harus dipertahankan. Melalui latihan yang melelahkan, ternyata kedua bela diri tradisional itu mampu memberikan kontribusi besar baik fisik dan mental seseorang. Lebih jauh pemerintah Ryukyu yakin bahwa bela diri dapat membentuk karakter seseorang hingga mereka dapat memberikan tanggung jawab sosial yang baik. Tidak heran jika karate dan kobudo dianggap memberikan inspirasi besar ke seluruh dunia hingga kini.
Setelah Ryukyu menjadi bagian Jepang dan berganti nama menjadi Prefektur Okinawa, makin membuka jalan untuk karate dan kobudo memasuki Jepang. Hal itu baru terjadi setelah tahun 1917 pemerintah Jepang mengundang wakil Okinawa untuk memberikan sumbangan demonstrasi bela diri di Kyoto. Pemerintah Okinawa menanggapi hal itu dengan positif dan mencari orang terbaik untuk pantas sebagai wakilnya. Setelah melalui berbagai pertimbangan, ditunjuk dua orang dari disiplin bela diri yang berbeda, yaitu Gichin Funakoshi (karate) dan Shinko Matayoshi (kobudo). Funakoshi dipilih sebagai wakil karena selain mahir karate juga terpelajar. Sedangkan Matayoshi dipilih karena menguasai banyak teknik senjata hasil berlatih di Cina. Keduanya dianggap sebagai dua nama terbaik dalam bela diri Okinawa era moderen.
Kobudo moderen menggunakan kuda-kuda dan pergerakan yang mirip dengan karate. Selain itu beberapa teknik kobudo juga ada dalam karate seperti tai sabaki (pergeseran badan), gerak tipu diikuti serangan dan gerakan menyerang bertahan yang bergantian. Kobudo juga menggunakan metode latihan satu macam senjata hingga berulang kali (bahkan ratusan hingga ribuan) sehingga mirip dengan latihan kihon atau kata dalam karate. Sebelum masuk ke Jepang kobudo hanya menggunakan senjata tradisional Okinawa dan beberapa diantaranya juga adaptasi dari Cina. Setelah kobudo diperkenalkan di Jepang beberapa senjata tradisional samurai seperti katana, naginata, yari (tombak), yumi dan ya (busur dan panah) juga dimasukkan. Agar tidak membingungkan, sistemnya kemudian disebut dengan Ryukyu Kobudo atau Okinawa Kobudo.
Saat ini kebanyakan aliran karate di Okinawa masih mempertahankan kobudo disamping latihan kihon, kumite dan kata. Diantaranya adalah Shorin-ryu yang menjadi salah satu gaya karate yang dipelajari Funakoshi. Sebaliknya, 4 besar karate Jepang (kecuali Shito-ryu) tampaknya sudah banyak yang meninggalkannya. Meski demikian, ada juga praktisi karate Jepang moderen yang berlatih kobudo meski hanya pilihan yang tidak wajib. Contohnya adalah Hirokazu Kanazawa (pendiri SKIF) yang mengajari senjata (semisal nunchaku) pada beberapa muridnya yang senior.
Kebanggaan yang membahayakan
Artikel ini dikutip dan diterjemahkan dari buku “Karate-do: My Way of Life” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi dengan judul aslinya “The Danger Pride”. Editing dan alih bahasa oleh Fokushotokan.
Suatu sore, saat baru saja kulewati usiaku yang ketiga puluh, aku berjalan pulang dari Naha ke Shuri. Jalan yang kulalui begitu sepi dan semakin sepi setelah melewati Kuil Sogenji. Sepanjang jalan di sebelah kiri terbentang sebuah pemakaman, dan didekatnya terdapat sebuah kolam besar yang jauh di masa lalu digunakan para pendekar untuk memberi minum kudanya. Di samping kolam ada sebidang tanah kosong dengan sebuah panggung dari batu ditengah-tengahnya; disinilah anak-anak muda Okinawa datang untuk menguji kekuatannya dalam pertarungan gulat. Tidak seperti biasanya, saat aku lewat beberapa anak muda tengah melakukan pertarungan gulat.
Seperti yang telah kutulis sebelumnya, gulat Okinawa sangatlah berbeda dengan apa yang dikerjakan di Jepang. Aku sangat gemar dengan olah raga itu dan (harus kuakui) mempunyai cukup rasa percaya diri. Aku berdiri dan mengamati untuk sejenak. Kemudian tiba-tiba salah satu dari mereka berteriak padaku, “Hei kau! Kemari dan cobalah! Kecuali tentu saja kau takut.”
“Benar!” teriak yang lain. “Jangan hanya berdiri dan melihat saja. Itu sangat tidak sopan!”
Aku benar-benar tidak ingin mencari masalah, karena itu aku berkata, “maafkan aku, tapi aku harus pergi sekarang,” dan mulai melangkah pergi.
“Oh tidak, kau tidak bisa pergi begitu saja!” Bersamaan dengan itu sepasang anak muda berlari mengejarku.
“Melarikan diri?” ejek salah satu dari mereka.
“Apa kau tidak punya sopan santun?” yang lain bertanya.
Bersama-sama keduanya meraih bajuku dan menyeretku ke panggung batu itu. Disana tengah duduk seorang laki-laki yang tampak lebih tua yang kupikir bertindak sebagai wasit – dan mungkin pegulat yang terkuat di kelompok ini. Tentu saja aku bisa menggunakan kemampuan yang kumiliki dan melarikan diri tanpa perlu kesakitan, namun kuputuskan untuk bergabung dalam olah raga itu. Pertarungan pertamaku, dengan yang terlihat paling lemah dari semuanya. Aku menang mudah. Anak muda yang kedua juga menjadi korban yang mudah. Dan begitu pula yang ketiga, keempat dan kelima.
Sekarang hanya tersisa dua laki-laki, salah satunya adalah wasit, dan keduanya terlihat seperti lawan yang tangguh.
“Baiklah,” kata si wasit dengan sebuah anggukan pada yang lain, “sekarang tiba giliranmu. Apa kau siap bertarung dengan orang asing ini?”
“Aku takut tidak dapat bertarung lagi,” aku menjawab. “aku rasa sudah cukup, dan aku juga yakin tidak akan menang. Permisi.”
Namun mereka mendesakku. Lawanku yang berikutnya dengan pandangan marah, mencengkeram tanganku hingga aku tidak punya pilihan untuk bertarung. Pertarungan ini juga menjadi milikku, dan dalam waktu yang cepat.
”Sekarang aku benar-benar harus pergi,” aku berkata. “Terima kasih. Permisi.”
Kali ini, tampaknya alasanku diterima. Namun saat aku mulai beranjak pergi menuju ke arah Shuri, aku mempunyai sebuah firasat akan terjadi sesuatu di tengah perjalanan. Dan ternyata aku benar, belum seberapa jauh kudengar suara dibelakangku.
Beruntung bagiku, sebelumnya saat meninggalkan Naha, aku sudah menyiapkan sebuah payung yang membantuku saat hujan.
Sekarang hujan telah berhenti, aku menggunakan payung itu sebagai tongkat untuk berjalan; ternyata payung itu juga berguna. Selanjutnya kuputuskan menggunakan payung itu sebagai senjata untuk membela diri, karena itu aku membukanya dengan cepat dan mengarahkannya kebelakang kepalaku untuk menghindari sebuah serangan dari belakang.
Baiklah, aku tidak akan membuat panjang cerita ini. Sekalipun ada tujuh atau delapan orang dalam kelompok itu, aku berhasil menghindari seluruh serangan yang ditujukan padaku, sampai akhirnya kudengar suara dari laki-laki yang lebih tua berkata, “Siapa laki-laki ini? Tampaknya dia tahu karate.”
Seranganpun dihentikan. Mereka berdiri mengelilingiku sambil menatap dengan marah, namun tidak ada serangan lagi begitu juga usaha untuk menghentikanku untuk meneruskan perjalanan lagi. Saat berjalan kembali kubaca sebuah sajak kesukaanku sambil mendengarkan suara gerakan yang mencurigakan, namun tak ada siapapun.
Saat aku tiba di Shuri, aku dipenuhi dengan penyesalan yang dalam. Kenapa aku harus terlibat dengan pertarungan gulat itu? Aku bertanya pada diriku, apakah hal itu hanya rasa ingin tahu belaka? Namun jawaban yang sebenarnya memasuki pikiranku: hal itu terjadi karena aku begitu percaya diri dengan kekuatanku. Pendeknya, hal itu adalah kebanggaan semata. Hal itu sebuah ejekan pada semangat karate-do, dan aku merasa sangat malu. Sekalipun kuceritakan kisah itu sekarang, setelah bertahun-tahun kemudian, aku masih merasa sangat malu.
Selengkapnya...
Ikken Hissatsu
Anda pernah mendengar istilah “ikken hissatsu” ? Bagi praktisi Shotokan tentu tidak asing dengan istilah ini. Ikken Hissatsu adalah salah satu dari sekian banyak filosofi Shotokan yang berkaitan dengan pertarungan (combat oriented). “Ikken” berarti tunggal, sedang “hissatsu” berarti serangan. Ikken Hissatsu berarti bertujuan membunuh dengan satu serangan. Dalam literatur lain istilah ini ada yang menyebut dengan “ippon ieatsu”. Banyak yang salah kaprah dengan dengan istilah ikken hissatsu ini. Sebagian praktisi karate menganggap bahwa membunuh lawan diperbolehkan. Tentu saja ini salah besar.Meski terdengar seram, makna hakiki dari ikken hissatsu tidak sesimpel itu. Untuk memahami istilah ini Anda cukup membayangkan sedang dikepung oleh lawan lebih dari satu. Masing-masing dari lawan memegang senjata yang siap memotong leher Anda kapan saja. Masing-masing mempunyai teknik yang Anda sendiri tidak mengetahui. Singkatnya, Anda dalam posisi yang terjepit. Bagaimana Anda akan menghadapi situasi yang serba sulit ini ?. Dalam kondisi seperti inilah konsep ikken hissatsu benar-benar diperlukan.
Filosofi ini mengisyaratkan penggunaan teknik yang efektif (waza- ari) dalam mengatasi lawan terutama dalam jumlah besar. Dengan demikian teknik yang dilancarkan hanya membutuhkan usaha atau gerakan minimal namun menghasilkan kerusakan besar pada lawan. Sehingga tidak ada tenaga sia-sia yang dikeluarkan. Hasilnya akan membuat si penyerang berpikir dua kali untuk menyerang lagi. Teknik kihon umunya sangat efektif mengatasi lawan yang banyak. Prinsip ikken hissatsu sangat sederhana : satu serangan dan selesai. Mengapa hanya satu serangan ? karena dengan satu teknik yang Anda lancarkan, ada cukup waktu untuk mengatasi penyerang yang lain. Lawan yang lain tentu tidak akan menunggu, bukan ?
Konsep ikken hissatsu sebenarnya telah ada sejak karate belum masuk ke Jepang. Bahkan diduga sebelum berkembangnya karate di Okinawa konsep ini telah ada. Tentu saja dengan penyebutan yang berbeda. Terbukti ketika karate masih dirahasiakan di Okinawa, duel antar ahli bela diri sudah biasa terjadi. Di akhir duel tentu ada yang hidup dan ada yang mati. Hal ini sudah lazim terjadi. Ketika samurai sedang berjaya di Jepang, filosofi ikken hissatsu benar-benar dilakukan. Sejak pertarungan hidup mati demi kehormatan seakan sudah menjadi hal biasa. Uniknya, mereka tidak dendam dengan lawannya. Bagi golongan samurai pertarungan pedang lebih dari sekedar kehormatan namun keyakinan. Setelah Restorasi Meiji budaya ini telah ditinggalkan.
Diduga Shotokan mendapat pengaruh konsep ikken hissatsu ini dari guru Funakoshi yaitu Anko Azato dan Itosu. Sudah menjadi legenda bahwa keduanya tidak pernah terkalahkan dalam pertarungan apapun. Entah melawan orang dalam jumlah besar atau bahkan lembu jantan liar seperti yang dihadapi Itosu. Umumnya mereka tidak butuh serangan kedua untuk menyelesaikan duel. Namun yang lebih menakjubkan, mereka tidak sampai membunuh lawannya. Ini mengisyaratkan bahwa karate bukan ilmu pembunuh yang bisa digunakan sesuka hati.
Shotokan saat ini masih mempertahankan konsep ikken hissatsu ini. Di beberapa organisasi besar Shotokan (seperti KWF) mereka masih mempertahankan latihan kata dasar seperti Heian dan Tekki. Pemandangan ini sering ditemui pada mereka yang telah sabuk hitam. Tentu saja ini kontras dengan kenyataan bahwa seharusnya untuk tingkat sabuk hitam mereka telah berlatih kata tingkat lanjut. Umumnya mereka dituntut berlatih kihon berulang-ulang disamping kata dasar. Bagi mereka dasar diperlukan untuk meraih hasil yang lebih baik. Hasilnya, dalam turnamen meski teknik yang dilancarkan terkesan “miskin” (sebatas oi tsuki atau chudan geri) mereka tidak terkalahkan.
Kesimpulannya, ikken hissatsu mensyaratkan kita mengalahkan lawan dengan teknik yang efektif. Untuk melancarkannya butuh tenaga yang umumnya besar. Tenaga yang besar adalah hasil dari berlatih. Ketika lawan telah roboh, Anda tidak dibenarkan mengakhiri hidupnya. Hargai hidup lawan seperti Anda menghargai nyawa Anda sendiri.
Sang Master - Lelaki Tua (2)
"Itikad baik yang mampu menembus batas negara, ras dan suku menunjukkan inti sebenarnya dari seni bela diri." (Hirokazu Kanazawa)
Dalam dunia serangga larva dan serangga dewasa akan berbeda baik bentuk maupun kebutuhan makanannya. Sementara manusia tidak mengalami perubahan bentuk seperti pada serangga, setiap tahap perkembangan manusia – bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan lanjut usia – kita adalah makhluk yang berbeda dan tubuh kita perlu kebutuhan yang berbeda pula.Saat Master Funakoshi menyarankan untuk meninggalkan segala aktivitas yang dapat menganggu selama tahap pertumbuhan, para instruktur harus melakukan upaya khusus untuk anak-anak agar lebih berani mengikuti berbagai latihan. Dan saat bergabung dengan latihan, sangatlah penting bagi anak-anak muda untuk menentukan satu tujuan bagi dirinya sendiri, sekaligus menikmati usaha dalam mencapainya. Apalagi melihat dunia yang baru, berjumpa dengan orang-orang yang baru dan melatih pikiran sebenarnya lebih penting dari sekedar meningkatkan jumlah latihan fisik. Mempertajam perasaan tidak hanya dapat mengembangkan naluri seni bela diri di masa depan, namun juga membentuk karakter.
Masa remaja adalah saat awal menuju kedewasaan dan penuh dengan pergolakan. Adalah satu masa untuk senantiasa khawatir dan introspeksi saat hubungan antara pikiran dan jiwa keluar dari keseimbangannya. Pertama-tama, rasa rendah diri, lemah, takut dan kemarahan harus diatasi lewat memperkuat diri sendiri. Jalan terbaik untuk mencapai tujuan ini adalah menjalani latihan fisik sekaligus berusaha menyatu dengannya.
Master Funakoshi sangat menyukai kebersihan dan masih kuingat penampilannya yang selalu rapi. Kapanpun masalah datang, aku menemukan bahwa latihan dan membersihkan memungkinkanku menemukan sebuah jalan keluar. Sekalipun saat di universitas para mahasiswa senior akan memintaku menggosok jalan masuk asrama, aku akan melakukannya hingga aku dapat melihat apa yang kupikirkan di bayangan lantai yang mengkilap. Aku percaya bahwa pondasi karate sesungguhnya berakar dalam hidup sehari-hari. Itulah sebabnya aku melakukan kegiatan khusus (membersihkan asrama) untuk menggerakkan baik tubuh bagian kiri dan kanan, dengan begitu akan melatih seluruh anggota badanku.
Ilmu pengetahuan sekarang membuktikan bahwa seimbang menggunakan belahan otak kiri dan kanan akan meningkatkan daya ingat. Dengan demikian latihan yang dilakukan tubuh untuk mendukung hal itu menjadi sangat penting. Sementara aku tidak dapat berbicara dari sudut pandang seorang ilmuwan, aku telah membuktikan sejak awal bahwa rutinitas dan menghargai tanggung jawab dalam hidup sehari-hari akan bermanfaat pada keseimbangan tubuh dan pikiran secara alamiah.
Demikianlah, masa remaja adalah saat untuk meraih kekuatan dan membangun rasa percaya diri. Jika kau tidak menyukai dirimu sendiri maka mustahil untuk menyukai orang lain.
Hal penting dalam karate yang menghubungkan tubuh dan pikiran adalah: teriakan semangat (kiai), perut dan pinggul. Tiga komponen inilah yang akan membawa seseorang pada tahap lebih kuat untuk mencapai kedamaian dan tentu saja mampu mengendalikan diri sendiri
Saat aku mengajar di luar negeri, dalam perjalanan tambahan sekalipun aku sebagai seorang instruktur, meski kondisi mentalku masih bertenaga ternyata fisikku sudah mencapai batas kelelahannya. Dalam kondisi seperti ini, latihan pernapasan dan kiai dapat membantuku memulihkan tenaga. Saat aku sedang bersemangat, dua latihan ini membantuku menekan perasaan tegang. Dan ketika kondisi mentalku menurun, latihan itu membantuku membangkitkan energi dari dalam tubuh.
Saat tubuh manusia telah berhasil mencapai kedamaian, maka berikutnya adalah membaginya dengan orang lain. Kita sebagai manusia mustahil bertahan hidup seorang diri. Saat berlatih kumite kita harus belajar menyesuaikan gerakan kita dengan lawan. Kita belajar “membaca” pikiran lawan dan dari sana kita belajar bagaimana menghormatinya. Ketika perasaan menghormati lawan telah ada maka rasa takutpun sirna dan kita akan menemukan bahwa kita tidak lagi mempunyai lawan.
Satu contoh dari jaman lama di Jepang yang mampu mengilustrasikan hal ini adalah rasa hormat seorang samurai pada lawannya yang mengakuinya sebagai “musuh terhormat.” Ada semacam bentuk keindahan yang ditunjukkan dari rasa saling hormat seperti itu.

Ketika kita belajar saling memberi kedamaian dengan orang lain, kita meningkatkan lagi dengan berusaha memberi kedamaian bagi masyarakat, alam sekitar, bumi dan akhirnya alam semesta. Satu contoh yang dapat menjelaskan hal ini adalah lewat mengenal orang lain dengan memberikan salam yang baik.
Saat berlatih di dalam dojo, umumnya kita akan memberi hormat tiga kali – sekali pada tempat kita saling berbagi untuk berlatih (dojo itu sendiri), sekali pada instruktur kita, dan sekali pada sesama rekan berlatih. Sebelum berlatih tanding kita membungkuk untuk memberi hormat pada lawan, dan saat mengerjakan kata tertentu kita menempatkan kedua tangan kita bersamaan untuk menandakan sebuah makna tertentu – yang menunjukkan kita tidak mempunyai maksud tersembunyi; keseimbangan yin dan yang; masa kini yang hadir diantara masa lalu (diwakili tangan kanan) dan masa depan (diwakili tangan kiri); dan harapan kita ke masa depan. Mereka yang sungguh-sungguh paham betapa menakjubkannya hal ini menunjukkan telah meraih martabat yang bersahaja. Dan saat rasa bersyukur telah diraih sebagai konsekuensi alamiah dibawah pencipta alam semesta ini, kedamaian pikiran dan sebuah wajah yang ramah akan senantiasa tampil.
Lebih jauh, ada bentuk salam verbal “Osu,” yang ditulis dengan huruf kanji Cina. Huruf pertama berarti “menekan”, karakter yang selalu berusaha untuk maju, dan semangat bertarung. Huruf kedua berarti “menahan” (beban, tantangan atau penderitaan) yang menekankan sebuah petunjuk bahwa hanya melalui ketekunan maka segala rintangan atau kemunduran dapat diatasi. Arti dari salam “Osu” selalu mengingatkan kita bahwa melalui usaha yang disiplin dan sungguh-sungguh maka kita akan dapat meraih apa yang kita impikan.
Apa yang telah kupelajari dari karate? Aku telah belajar bagaimana membuat diriku bahagia sekaligus mencapai kedamaian. Bagi umat manusia, kematian adalah hal yang tidak terelakkan dalam hidup. Karena itulah, aku ingin berbagi dengan orang lain apa yang telah kupelajari selama ini. Merasa bahagia sementara orang di sekitarku tidak demikian bukanlah kebahagiaan sejati. Itikad baik yang mampu menembus batas negara, ras dan suku menunjukkan inti sebenarnya dari seni bela diri.
Saat aku berusia dua puluhan, aku bertemu Master Funakoshi untuk pertama kalinya yang saat itu telah berusia delapan puluhan, dan saat itu aku berpikir ingin menjadi sepertinya. Dari sudut pandangku ini dirinya juga sebagai seorang contoh yang harus diikuti. Kita juga, mempunyai sebuah kewajiban untuk menjalani hidup dengan sebenar-benarnya dan menjadi contoh bagi generasi muda hari ini.
Hidup dan proses menjalaninya adalah sebuah seni.
Sang Master - Lelaki Tua (1)
"Aku telah belajar dari Master Funakoshi bahwa kau selalu bisa memulai jalan yang baru, tidak masalah berapa usiamu, dan hatimulah yang akan menentukan kebahagiaanmu sendiri." (Hirokazu Kanazawa)
Saat masih berusia tujuh belas tahun, aku sering merenung kelak diriku akan mengikuti pelajaran karate dari Master Funakoshi. Saat begitu bersemangat mengingat sosok seperti apakah dia, aku ingin turut berbagi beberapa pelajaran yang telah kuperoleh saat bersamanya. Selain itu juga karate dari sudut pandangku secara pribadi selama aku menghabiskan waktu bersama Master Funakoshi.
Gichin Funakoshi dilahirkan tahun 1868 di Shuri, Okinawa. Sebagai anak yang bertubuh kecil dan lemah, dia mulai berlatih karate, belajar dibawah Yasutsune Itosu dan Yasutsune Azato (dan sesekali Sokon Matsumura). Funakoshi menjalani latihannya di malam hari, setelah menyelesaikan pekerjaannya mengajar di sekolah pada hari itu. Adalah sudah biasa baginya melihat fajar yang baru setiap usai latihan. Dia tumbuh menjadi seorang ahli kaligrafi (tulisan kanji) dan seorang pendidik yang terlibat mengajar anak-anak muda di kotanya.
Titik balik untuk Funakoshi tiba tahun 1922 saat dirinya diundang ke Tokyo sebagai wakil Prefektur Okinawa untuk mendemonstrasikan karate di acara Eksibisi Tahunan Atletik yang pertama. Sebuah acara untuk anak muda Jepang yang didukung oleh Menteri Pendidikan. Demonstrasi itu menuai sukses dan setelah itu Funakoshi menerima permohonan yang terhitung jumlahnya untuk mengajar karate. Dia memutuskan untuk tinggal di Tokyo dan tetap disana hingga kematiannya, menyebarkan karate sebagai ilmu untuk melatih fisik dan mental, terutama dengan mengajar para mahasiswa di Universitas. Saat itu Funakoshi sudah berusia lima puluhan, yang membuatnya lalu dianugerahi gelar “Bapak Karate Moderen.”
Saat itu di Jepang orang-orang dengan usia lima puluhan umumnya telah memasuki masa pensiun. Namun tidak demikian halnya dengan Master Funakoshi, disamping sedikitnya dukungan ekonomi, dia memutuskan untuk memulai hidup yang baru di Tokyo. Sejak itu dan selanjutnya menjadi sebuah episode yang sangat populer dalam hidupnya.
Karena kesulitan ekonomi, Prefektur Okinawa tidak mampu menyediakan dukungan finansial dalam bentuk apapun pada Funakoshi. Karena itulah Master Funakoshi diijinkan tinggal di Meisei Juku, sebuah asrama bagi pelajar Okinawa dengan sebagai gantinya mengerjakan bermacam-macam pekerjaan di asrama.
Suatu hari seorang wartawan datang ke asrama untuk mewawancarai Funakoshi. Setibanya disana, dia melihat seorang pembantu yang tengah menyapu di kebun. Diapun bertanya dengan nada bicara yang angkuh,”Master Funakoshi ada?” Pembantu itu dengan sopan mengajak wartawan itu ke ruang lukis dan memintanya untuk menunggu sebentar. Sesaat kemudian pembantu di kebun itu muncul kembali, namun kali ini dengan mengenakan busana yang lebih rapi. Saat itulah wartawan itu sadar bahwa pembantu dan Master Funakoshi adalah orang yang sama. Terlihat terkejut, wartawan itu membungkuk dalam-dalam pada Funakoshi, benar-benar meminta maaf atas ketidaksopanannya. Namun demikian, Funakoshi telah melupakan kejadian itu dan selalu tersenyum selama wawancara.
Di tahun-tahun berikutnya Master Funakoshi tidak akan melupakan sebuah masa dalam hidupnya, dimana sang Master hidup dalam serba kekurangan. “Aku tidak pernah menganggapnya sebagai sebuah kesulitan” dia menjelaskan. “Lebih dari itu, aku berterima kasih pada segala aspirasi dan mimpiku untuk menyebarkan karate. Aku sudah cukup merasa bahagia.”
Aku telah belajar dari Master Funakoshi bahwa kau selalu bisa memulai jalan yang baru, tidak masalah berapa usiamu, dan hatimulah yang akan menentukan kebahagiaanmu sendiri.
Ada juga sebuah kisah lucu diantara kami para murid saat itu tentang rasa penasaran pada sebuah pertanyaan: Apakah Sensei Funakoshi masih benar-benar tangguh di usianya yang sudah delapan puluhan? Satu insiden yang terjadi dikemudian hari menyadarkanku bahwa diluar usia yang masih muda, kami bukanlah tandingan untuk sang Master.
Saat itu aku pergi menjemput Master Funakoshi dan bermaksud mengantarkannya kembali ke dojo universitas kami dengan menumpang sebuah taksi. Duduk disampingnya dan menghadap ke depan, terlintaslah sebuah pikiran di benakku: apa yang akan terjadi jika sekarang aku mencoba kebolehan Sensei Funakoshi? Tiba-tiba Funakoshi menjawab dengan suara yang perlahan,”Kanazawa, apa yang baru saja kau pikirkan?”
“Tidak ada,” aku menjawabnya dengan gugup, menyadari bahwa dia telah membaca pikiranku. “Tidak ada sama sekali.”
Pada kesempatan lain aku begitu terkejut saat mendengar Master Funakoshi mengakui bahwa ada beberapa hal yang tidak mampu dilakukannya.
Saat itu kami sedang berlatih kata Kanku Dai. Aku mengamati dengan cermat setiap gerakan Sensei Funakoshi, dan mengerjakan setiap gerakan persis seperti yang telah ditunjukkannya pada kami. Namun meski demikian, dia datang menghampiriku dan berkata,”Kanazawa, kau harus melebarkan kedua kakimu lebih jauh dan merendahkan pinggulmu lebih rendah lagi.”
“Ya, Pak,” aku segera menjawabnya. Tapi karena masih kebingungan dengan perkataannya, aku masih saja berdiri dalam posisi yang telah dicontohkan oleh Sensei Funakoshi sebelumnya.
“Aku sudah tua, aku tidak mampu melakukan hal ini,” sang Master menambahkan. “Tapi kau masih muda. Masa muda adalah waktunya memperkuat kedua kakimu.”
Saat berlatih kata yang sama di kesempatan yang lain, aku membentangkan kedua tanganku dalam gerakan pembuka secara perlahan mirip dengan apa yang kulihat dari Master Funakoshi. Saat melihat hal ini sang Master berkata,”aku melakukannya karena usiaku. Saat kau masih muda, irama sangatlah penting.” Dia lalu memerintahkanku untuk mengerjakan gerakan itu dengan lebih baik dalam dua langkah.
(Catatan Admin: yang dimaksud dua langkah adalah gerakan pembuka Kanku Dai. Setelah kedua tangan mengarah perlahan keatas – melihat langit –, dengan cepat terbuka dan mengarah kebawah lagi dengan perlahan. Funakoshi tidak mampu melakukan gerakan yang cepat itu).
Masa muda dan pengalaman tidak mungkin dikuasai secara bersamaan. Sejak perjumpaanku dengan Master Funakoshi, konsep yang satu harus dikorbankan demi meraih yang lain telah menjadi bagian hidupku. (bersambung)
